Hot!

Mengapa kita mencintai orang yang tidak mencintai kita?

 kitamuda.id

Hidup Penuh Liku Liku
Ada Suka Ada Duka
Semua Insan Pasti Pernah Merasakannya…
Begitulah lirik dari sebuah lagu dangdut yang dipopulerkan oleh Camelia Malik. Entahlah, Camelia Malik itu apanya Candra Malik. Entahlah, Camelia Malik itu apanya Zayn Malik. Entahlah… entahlah… tapi yang jelas, lirik di atas emang banyak benernya.
Liku-liku itu tak hanya pada hidup. Namun juga hubungan asmara. Ada yang mencintai pasangan orang, ada yang mencintai pasangan dari orangtuanya sendiri, dan ada pula yang mencintai orang yang tidak mencintai.

“Eh, gimana? Gimana?”
Ya, mencintai orang yang tidak mencintai. Hal seperti ini lazim terjadi dalam dunia percintaan. Maka dari itu, kali ini Kita Muda mau ngebahas alasan kenapa kita mencintai orang yang tidak mencintai kita?

Karena mencintai itu hak. Begitu pula sebaliknya.



Cinta ditolak
Foto : singlechristianity.com
Seperti semua hal, cinta pun demikian. Semua orang berhak mencintai siapapun. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah: orang lain juga berhak mencintai balik ataupun tidak. Kalau cinta dibales cinta, asik banget. Karena emang itu yang diharapkan. Tapi kalau dibalas dengan penolakan, nah, maka dari itu ada artikel ini yang membahasnya. Biar kalau kamu perih, perihnya nggak perih-perih amat. Lalu kalau cinta itu balasannya bukan “diterima” atau “ditolak”, melainkan “aku mau fokus ujian dulu,” ketahuilah bahwa itu kata lain dari penolakan. Ngoahahahaha. Sokor!

Dan mencintai itu tidak butuh banyak alasan.

Karena kita masih merupakan golongan-golongan manusia yang percaya bahwa cinta itu tak butuh banyak alasan, maka yang terjadi adalah ngotot untuk terus-menerus mencintai. Sementara, orang yang dimaksud juga tetep ngotot untuk terus-menerus tidak mencintai. Wah!

Selain itu cinta patut untuk diperjuangkan, apapun resikonya.



pasangan romantis
Foto : desktopwallpapershd.in
Beberapa orang memilih untuk terus mencintai orang yang tidak mencintainya, karena dalam pikirannya masih ada kepercayaan bahwa cinta itu patut untuk diperjuangkan. Kalau orang yang dicintai ternyata tidak mencintai, berarti prinsipnya adalah: cinta itu patut untuk tidak diperjuangkan. Huft.

Karena kewajiban kita, berusaha. Soal hasil, terserah Dia dan dia.

Nah, ini paling keren.
Buat apa sih ngotot-ngotot mencintai orang yang tak mencintaimu? Kayak dunia ini orang yang patut jadi pasanganmu cuma dia aja. Coba main-main yang jauh sana. Masuki komunitas atau organisasi baru. Atau pindah ke lingkungan dan pekerjaan baru, niscaya kamu akan bertemu orang-orang baru, yang bisa jadi, salah satu di antaranya, adalah jodohmu. Tapi kalau kamu emang mau ngotot mencinta orang yang nggak mencintaimu, ya terserah. Toh, kamu cuma bisa berusaha. Karena hasilnya sudah pasti terserah Dia (Tuhan) dan dia — atau kalau mau ditambah juga bisa: dan orangtuanya, dan pacarnya, dan selingkuhannya. Tuh, kan, banyak.

Masih percaya jika cinta itu bisa tumbuh karena kebiasaan yang tercipta.



pasangan bicara
Foto : wallpaperscraft.com
Witing tresno jalaran kulino, begitulah istilah jawanya. Cinta tumbuh karena terbiasa.
Bisa jadi, kamu terus-terusan mencintainya, karena masih memegang erat prinsip itu. Tapi kalau kamu mendekatinya menggunakan rasa, sementara ia menerima pendekatanmu tanpa rasa, apalah arti membiasakan kebersamaan?
Buang-buang waktu!

Baca Juga : Cara-cara paling sombong dalam melupakan mantan

Membuatnya bahagia dengan segala pilihannya adalah yang paling utama.

Keutamaan itu tak hanya milik bus Hiba Utama. Tapi juga hal yang harus kamu lakukan, yakni dengan membiarkannya untuk memilih hal yang bisa membuatnya bahagia. Termasuk, tidak mencintaimu. Lha gimana, wong nggak cinta kok mau dipaksa-paksa. Janganlah. Apa-apa yang dipaksa itu hasilnya nggak enak. Bukankah begitu, sendok garpu?